>>
you're reading...
News

Sisi Lain Steve Jobs (3-Habis), ‘Saya Tak Takut Mati’

detail berita

Steve Jobs

Ketika Steve Jobs didiagnosa oleh dokter bahwa ia terkena penyakit kanker pankreas, banyak goncangan yang terjadi dalam jiwanya. Hingga akhirnya ia tenang dan termotivasi kembali dalam menjalani hidup.

Semenjak diagnosa tersebut, motto ‘hidup itu terlalu singkat untuk disia-siakan’ dijunjung tinggi oleh Jobs, sehingga banyak dari tindakan hidupnya yang kental aura positif dan optimisme. Berikut adalah bagian akhir dari pidato Jobs di depan mahasiswa-mahasiswa Stanford University tahun 2005, yang banyak menyinggung tentang kematian:

Cerita ketiga, kematian

Ketika saya berusia 17 tahun, saya membaca sebuah kutipan bertuliskan ‘jika kamu hidup setiap hari seperti hari terakhirmu, maka hal yang dilakukan adalah hal-hal yang benar’. Kutipan tersebut sangat berkesan bagi saya. Semenjak itu saya selalu berkata pada diri saya: ‘jika hari ini merupakan hari terakhir dalam hidup saya, maka hal apa yang akan saya lakukan hari ini?’ Saya tahu bahwa ada sesuatu yang perlu diubah

Mengingat bahwa saya akan segera meninggal merupakan alat yang penting bagi saya untuk membuat pilihan-pilihan besar dalam hidup. Karena semua hal; entah itu harga diri, takut akan gagal, akan hilang di hadapan kematian. Dengan mengingat bahwa akan meninggal dunia merupakan cara terbaik bagi saya untuk menghindari jebakan-jebakan pemikiran. Tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hatimu sendiri.

Pada tahun 2004 saya didiagnosa terkena kanker. Saya di-scan pukul 7:30 pagi, dan tes tersebut dengan jelas menunjukkan sebuah tumor di pankreas saya. Saya sendiri tidak tahu apa itu pankreas. Dokter memberi tahu saya bahwa itu adalah jenis kanker yang tidak dapat disembuhkan, dan memberi tahu bahwa hidup saya ke depan bakal tak lebih dari tiga sampai enam bulan. Dokter saya menganjurkan agar segera ke rumah dan memberitahukan hal tersebut kepada keluarga.

Saya hidup dengan hasil diagnosis tersebut setiap harinya. Pada sorenya saya menjalani tes biopsy, ketika mereka memasukkan sebuah endoskop ke dalam tenggorokan dan perut saya, serta memasukkan jarum ke dalam pankreas saya. Mereka pun menemukan sel tumor di dalamnya. Saya sendiri tenang dalam menjalani tes tersebut. Pihak dokter menyatakan bahwa kanker tersebut merupakan jenis yang langka yang disembuhkan hanya melalui operasi. Saya pun dioperasi dan kini baik-baik saja.

Hal tersebut merupakan hal terdekat saya dalam menghadapi kematian, dan saya harap itu yang ‘terdekat’ untuk kurun waktu beberapa dekade ke depan.

Tak ada seorang pun yang ingin meninggal. Bahkan orang-orang yang ingin masuk surga juga tidak ingin mati untuk menuju ke sana. Namun kematian merupakan tujuan dari kita semua. Tidak ada yang bisa menghindari kematian, dan memang seharusnya seperti itu, karena kematian merupakan salah satu penciptaan terbaik dalam konsep Kehidupan. Hidup adalah sebuah agen perubahan: menghilangkan yang tua untuk memberi jalan untuk yang muda. Saat ini Anda muda, namun tidak lama kemudian Anda kan menjadu tua dan mati. Maaf sedikit dramatis, tapi hal itu memang benar.

Hidupmu itu sangat terbatas, jadi janganlah disia-siakan. Jangan terjebak dalam dogma. Jangan biarkan pendapat orang lain menenggelamkan pendapat pribadimu. Dan yang terpenting adalah miliki keberanian untuk mengikuti hati dan intuisimu, karena hal-hal tersebut seperti sudah mengetahui ‘kamu itu akan jadi apa’.

Ketika saya muda, ada sebuah media bagus bernama The Whole Earth Catalog, yang merupakan ‘kitab suci’ untuk generasi saya. Media tersebut dibuat oleh Steward Brand yang memberinya sentuh puitis dalam penulisannya. Media itu hadir di tahun 60-an, jaman sebelum penerbitan hasil PC muncul. Semuanya masih terbuat dari mesin ketik, gunting dan kamera polaroid. The Whole Earth Catalog ibarat seperti Google dalam format cetak.

Stewart dan timnya mengeluarkan beberapa edisi The Whole Earth Catalog, hingga akhir mengeluarkan edisi terakhir pada pertengahan tahun 70-an. Sampul untuk edisi terakhir tersebut bergambar sebuah jalanan pedesaan yang kosong, di bawahnya pun ada tulisan ‘Tetaplah lapar, tetaplah bodoh’. Itulah pesan terakhir di The Whole Earth Catalog. Kata-kata itulah yang selalu ada di benak saya. Kini anda sebagai lulusan baru akan memulai hal tersebut. Itulah yang saya harapkan kepada kalian.

Stay Hungry. Stay Foolish.

Terima kasih banyak

Tamat

Sumber : http://techno.okezone.com/read/2011/10/06/57/511723/sisi-lain-steve-jobs-3-habis-saya-tak-takut-mati

About Gootekno

Write to share, to increase knowledge and friendship

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: